RSS

Tag Archives: Mertua

Mertuamu Surgamu

Seorang sahabat belum lama ini ‘curhat’ mengenai hubungannya dengan mertua yang kurang harmonis.  Kebetulan sahabat tersebut tinggal serumah dengan mertuanya.

     “Rasanya tertekan banget, La. Aku mau ngontrak atau ngekost aja deh” ucap sahabat saya. Saya tersenyum-senyum saja membiarkan ceritanya mengalir lepas. Rupanya perbedaan kultur telah membuat hubungan menantu-mertua tersebut menjadi kurang hangat.

Bergaul dengan mertua –dalam tulisan ini, maksud mertua adalah Ibu Mertua, pen.– memang gampang-gampang susah. Wacana seni bergaul dengan mertua banyak diulas dalam artikel-artikel psikologi rumah tangga, namun dalam kenyataan, teorinya tidak selalu mencocoki prakteknya. Masalah komunikasi antara mertua-menantu  ini bisa datang dari pihak menantu, mertua, maupun kedua belah pihak.

Satu hal yang patut saya syukuri adalah ketika dianugerahi mertua yang sangat baik. Bisa dikatakan hubungan saya dan mertua terjalin sangat manis. Meski tidak pula saya katakan hubungan kami mulus-mulus saja tanpa masalah. Sebab dalam sebuah bangunan komunikasi, yang namanya gangguan (noise) pasti tetap ada. Namun dengan senantiasa memohon pertolongan-NYA, semua masalah insya Allah ada solusinya, tergantung apakah kita cerdas dalam mengurai benang-benang masalah tersebut hingga uraiannya bisa kembali indah.

Mengenal budaya rumah mertua adalah hal yang pertama kali saya pelajari di awal menikah dan pindah ke rumah mertua. Selama dua bulan pertama saya memang masih tinggal di Pondok Mertua Indah, begitu istilah populernya. Tentu saja proses belajar itu masih terus berlangsung hingga kini, meski suami dan saya tidak serumah lagi dengan mertua.

Belajar di sini saya tempuh dengan beberapa cara yakni mengamati langsung, bertanya pada suami, bertanya pada mertua serta dari koreksi-koreksi orang dalam rumah atas “kecerobohan-kecerobohan” yang saya lakukan. Hingga semua hal tersebut membuat saya kemudian terbiasa dengan budaya rumah mertua. Budaya-budaya tersebut di antaranya: gelas minuman untuk laki-laki di dalam rumah harus pakai tatakan, gelas minum Bapak harus yang paling besar, orang tua harus didahulukan dalam hal makan (ini saya setuju sekali sebagai bentuk birul walidain sebagaimana dalam cerita tiga pemuda yang terkurung dalam gua), dan masih banyak lagi kebiasaan yang lain.

Adapun proses belajar dari kesalahan adalah hal yang paling banyak saya alami. Terutama dalam hal memasak. Memasak memang bukan aktivitas yang saya gilai. Maka tidak heran saya kurang pandai dalam hal yang satu itu. Mertua pun sudah saya beri tahu mengenai hal ini ketika saya akan dinikahi putra beliau. Alhamdulillah beliau pun sabar sekali menghadapi kekurangan saya dalam masalah memasak ini. Beliau bahkan mengajari saya banyak hal tentang urusan dapur. Dari proses belajar itu saya akhirnya tahu bagaimana memilih pisang yang baik, mencuci piring yang efisien, menghemat listrik dan air, menghasilkan gorengan ikan yang enak, merebus sayuran yang benar agar vitaminnya tidak hilang, memanfaatkan limbah dapur yang ada, menghemat uang suami, juga memanfaatkan barang-barang bekas yang masih layak digunakan.

Ketika belajar tersebut saya pun memahami hal-hal yang membuat mertua saya bahagia. Saya mengerti beliau senang ketika tahu saya mencintai serta mampu mengurus keperluan suami, tidak lamban dan antisipatif, memuliakan keluarganya pun selalu menyambung kekerabatan dengan mereka, visioner, berbesar hati jika ditegur, bisa belajar dari kesalahan, dan jujur. Alhamdulillah di sisi lain mertua pun termasuk orang yang mau menerima masukan dari anak-anaknya, termasuk saya, jika memang beliau salah.

Akhirul kalam, bagaimanapun karakter mertua kita perhatikanlah bagaimana kita menjalin hubungan dengan mereka. Ingatlah bahwa mereka adalah orang tua dari suami akita. Mereka juga punya hak besar untuk kita perlakukan dengan baik, dihormati, dinasehati dengan lemah lembut ketika keduanya lalai, juga disambungkan hubungan kekerabatannya ketika meninggalnya. Dengan memuliakan keduanya karena Allah, bukan hanya pahala yang kita tuai, kasih sayang dan cinta dari mertua dan suami pun insya Allah bisa kita peroleh. Wallahul musta’an.

————————————————————————————————–

Catatan Kecil Dari Rumah Mertua Tercinta

Balikpapan, 20 Dzulhijjah 1431 H.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 12 January 2012 in Tentang Keluarga

 

Tags: , , ,