RSS

Author Archives: Lovellatte

About Lovellatte

Ibu Rumah Tangga, (mulai) sangat tertarik dengan Bahasa Arab, senang menulis di kala luang, penikmat alam, petualang jagad maya, pembelajar (walau sering harus dipaksa :D), mencintai rumah dan keluarga, perindu wajah-Nya terutama.

Kepada “Maut”

Betapa pun  susah sungguh menguntai kata nan puitis, pun menjalin bahasa indah, namun surat ini harus engkau baca.

Baiklah, aku awali surat ini dengan satu pertanyaan.

Menurutmu, apakah bahagia itu?

Biar kutebak jawabanmu. Apakah engkau mengartikan bahagia dengan  memiliki harta berlimpah, karir mapan, rumah indah bak istana, mobil mewah nan elegan, istri cantik memesona, kemudian mati masuk surga?

Jika tebakanku benar maka cukup mengangguk saja.

Aku  mengerti jika engkau berpikir demikian tentang makna bahagia.

Sebab di mataku kau memang pekerja keras.

Tahukah engkau? aku selalu menghargai lelaki pekerja keras sepertimu.

Namun, bahagiakah dirimu begitu?

Berpeluh lelah mengumpulkan lembar -lembar uang, lantas sekejap saja uang tersebut menjelma menjadi jam tangan keren berkelas, sepatu kulit dengan harga selangit, atau celana kasual yang membikin dirimu makin keren.

Duhai, betapa nikmatnya hidupmu.

Badan sehat dikelilingi  banyak kawan.

Ya, engkau memang dicintai kawan-kawanmu.

Siapa yang tak kenal engkau?

Lelaki yang mudah bersahabat dengan banyak orang.

Maaf, aku sedang tidak menyanjungmu.

Aku hanya senang berucap jujur.

Sekali lagi aku bertanya, bahagiakah hidupmu seperti itu?

Oke, alismu tidak perlu berkerut seperti itu karena pertanyaanku.

Aku sekadar ingin meyakinkan saja.

Sungguh tak ingin buatmu marah.

Oh ya, pernahkah suatu saat engkau bertanya pada diri sendiri, “apakah bahagiaku membuat keluarga terdekatku turut bahagia?”

Tak usah menjawab jika kau bingung.

Kau hanya cukup memerhatikan keadaan mereka.

Jika  wajah Ibumu senantiasa berseri ketika melihatmu dan kalian jarang bertengkar  hanya karena kondisi dirimu, yakinlah beliau  pasti bahagia.

Sebab wajah  yang berbahagia terlalu sulit untuk ditutupi.

Pun dengan istrimu. Jika kau temukan dia dengan wajah penuh senyuman dan tatapan penuh cinta, percayalah dia sedang berbahagia.

Kau tentu setuju jika aku katakan, cinta tak akan mampu berdusta.

Begitu pula saudara  saudarimu. Jika kau dapati lisan mereka tidak selalu berpetuah tentang dirimu, tersenyumlah karena mereka mungkin bahagia.

Ingat! Hanya keluarga dekat BUKAN teman-teman dekat.

Ataukah pemandangan sebaliknya yang engkau lihat?

Awan mendung selalu menghiasi wajah Ibumu karena sedih memikirkan keadaanmu.

Demikian pula istrimu. Bulir-bulir air mata setiap saat  jatuh dari wajah cantiknya sebab merindukan suaminya yang terlalu jauh mengejar kebahagiaannya sendiri.

Saudara saudarimu pun harus selalu menasihatimu karena dirimu seakan berada hanya di duniamu sendiri.

Jika tiga kondisi terakhir ini yang kau alami, mulailah untuk berpikir duhai kawan.

Tidak harus dengan berpikir keras.

Perlahan-lahan saja di waktu-waktu yang tenang.

Kata orang waktu kontemplasi.

Ketika bangun pagi atau sesaat menjelang tidur.

Merenunglah sejenak akan hidupmu.

Tak perlu memaksakan diri kalau terasa susah.

Mari biar kuberi  kau pemantiknya.

Lalu intiplah  jendela kebahagiaan yang sebenarnya.

Di tengah malam senyap saat kau mungkin sedang lelap, di ruangan yang lain, tangan keriput Ibumu terangkat ke langit , berdoa kepada Rabbnya dengan deraian air mata agar Dia selalu melimpahkan kebaikan untuk seluruh anaknya. Terutama dirimu.

Itulah kebahagiaan!

Kau dianugerahi sosok Ibu yang selalu mendoakanmu.

Sosok yang berjuang dengan segala cara agar kau bisa dekat dengan Rabbnya.

Silakan jawab sendiri balasan apa yang sudah engkau kalungkan untuknya atas kebaikannya tersebut.

Berikutnya Allah menakdirkanmu beroleh seorang istri.

Mungkin dia bukan sosok istri idamanmu

Namun cobalah sedikit mengingat kebaikannya.

Jika lisanmu memang sering menolak nasihatnya.

Jangan sampai hati dan akalmu tertutup untuk kebaikan dari isi nasihatnya.

Ketika setan begitu menggebu membisikkan segala kekurangannya

Berjuanglah untuk memeranginya.

Sudahkah kau mendengar kabar dari nabimu?

Beliau SAW berucap bahwa kebahagian terbesar dan terindah bagi iblis dan kawan-kawannya adalah ketika mereka mampu memisahkan suami-istri.

setelah kau tahu kabar ini, masih inginkah kau membuat musuh abadi kita itu tertawa bahagia di atas goncangan bahtera rumah tanggamu?

Berkacalah dengan usiamu wahai jiwa yang semoga dilembutkan hatinya.

Engkau bukan lagi remaja yang darah mudanya sering menentang semua yang tak sejalan dengan  akalnya.

Engkau bukan lagi remaja yang pikirannya hanya hura-hura.

Tugas baru kini bertahta di pundakmu.

Kau kini memangku gelar SUAMI, imam bagi istrimu.

Sebuah nikmat yang membuat banyak bujangan mungkin iri terhadapmu.

Sebuah karunia yang diimpikan para laki-laki shalih yang belum berkemampuan untuk itu, sebab dengannya sempurnalah separuh agama mereka.

Kau hanya diminta untuk melengkapi setengah sisanya.

Menyenangkan bukan?

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Duhai engkau yang semoga Allah menuntunmu di atas kebenaran.

Jika selama ini engkau menyadari bahwa engkau banyak lalai dan alpa,

Mulailah untuk menengok ke relung hatimu.

Dan tempuhlah jalan kebahagiaan hakiki yang menantimu sejak lama.

Jalan yang sudah dititahkan Tuhanku dan Tuhanmu, bagi hamba-hamba yang ingin melaluinya.

Jalan yang Dia ajarkan kepada manusia yang paling mulia di alam ini, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Kembalilah ke pelukan cinta Ibumu yang bertahun-tahun merindukan sapaan hangat dan lembutnya jiwamu.

Kabarkan padanya bahwa Rabbnya telah mengabulkan doa di malam-malam yang dia lewati bersama-Nya.

Gembirakanlah istrimu sehingga laskar setan yang ingin memutus tali cinta kalian pergi dengan penuh kekalahan.

Setelah membaca suratku ini, senyum sukacita dari wajah-wajah yang mencintaimu mungkin telah menantimu di luar sana.

Sebab kau telah menjadi insan yang baru.

Lelaki yang senantiasa berusaha dekat dengan Sang Pemberi kebahagiaan.

Selamat menebar dan meraih bahagia!

Riyadh, 17 Safar 1433 Hijriah.

 
Leave a comment

Posted by on 3 February 2012 in Tentang Keluarga

 
Quote

“Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003) via http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/

Allah Cemburu

 
Leave a comment

Posted by on 3 February 2012 in Edisi Riyadh

 

Tags: ,

Ummul Hamaam, BUKAN Hammaam!

Ummul Hamaam Al Gharbi selepas subuh

Ummul Hamaam (huruf mim-nya tanpa syaddah, atau tasjid kalo orang Indonesia bilang) adalah nama kawasan jalan di Riyadh tempat saya tinggal.

Kenapa saya nekanin banget untuk membedakan dua prase ini?

Soalnya kalo sampe salah ucap maknanya jadi jauuuuuhhh banget.

*Hamaam dalam bahasa Indonesia artinya merpati.

*Hammaam (mim-nya ber-syaddah) artinya WC atau toilet.

Beda banget kan artinya?

Ceritanya gini, kalau pas saya kenalan sama orang yang sama-sama tinggal di Riyadh, pasti mereka nanya saya tinggalnya di kawasan mana? Saya pun selalu menjawab “di Ummul Hamaam Al Gharbi (bagian barat).” Kalau ketemunya sama mereka yang berbahasa Arab sih nggak masalah. Mereka paham aja arti dan cara pelafalannya.

Sama yang non berbahasa Arab ini nih masalahnya. Mereka tuh suka salah ngeja kata “hamaam” jadi “hammaam” dengan wajah yang polos banget. “Sorry, hamaam without syaddah, not hammaam!” ralat saya. Entah kenapa saya terlalu sulit menerimanya. Bahkan sampai sekarang. ^^

Ummul Hamaam, 9 Rabi’ul Awwal 1433 H

 
Leave a comment

Posted by on 2 February 2012 in Edisi Riyadh

 

Tags: , , , , , ,

Riyadh, I’m In Love

Kingdom Tower

     Aku jatuh cinta dengan Riyadh. Lima bulan hidup di ibukota Saudi Arabia bagiku terasa sangat menyenangkan. Well, hidupnya monoton memang. Rumah-sekolah. Di dua tempat itu saja aku menghabiskan aktivitasku. Jika butuh, sesekali aku pergi belanja ke mall atau ke rumah sakit. Suamiku yang lebih sering belanja.

     Laiknya hidup di Negara Islam, maka suasana keislaman pun kental terasa di sini. Setiap waktu shalat tiba, warung kecil sampai mall paling besar harus tutup. Begitu juga kantor dan kampus. Menakjubkan. Beberapa kali ketika belanja dan tiba waktu shalat, aku harus terkurung di dalam mall bersama wanita-wanita lainnya, menunggu para pekerja dan pengunjung laki-laki sampai selesai shalat. Di Riyadh juga masih bisa ditemukan polisi syariah berpatroli menyuruh manusia shalat berjama’ah di masjid.

     Aku tidak mengatakan Riyadh yang terbaik dalam menerapkan hukum Islam. Wanita yang tidak berjilbab juga bisa didapati di tempat-tempat umum di sini, semisal rumah sakit dan toko-toko. Biasanya mereka berasal dari Pilipina, India, atau sebagian Amerika. Jumlah mereka tidak banyak. Alhamdulillah. Paling tidak aku merasa bebas bercadar di sini.

     Oh iya, di Indonesia mungkin masih agak aneh bagi mayoritas masyarakat melihat perempuan bercadar. Di Riyadh sebaliknya. Perempuan tak berjilbab akan diplototi dengan tatapan aneh dari berpasang-pasang mata. Saya sendiri sih kalau melihat mereka biasanya berkomentar dalam hati, “ah, paling-paling juga non Muslim.”

     Untuk makanan, tidak sulit mencari bahan masakan Indonesia di Riyadh. Lulu Hypermart langgananku bahkan nyaris komplit menjual bahan masakan Asia, khususnya Indonesia. Pare, oyong, kunyit, jahe, kelapa, singkong, ubi, jagung, terong, sampai daun pisang pun dijual di sini. Oops! Maaf bukan bermaksud promosi.

     Biaya hidup di Riyadh termasuk tinggi. Awal-awal ketika belanja, meski harganya cuma 1 Riyal, otakku masih suka menghitungnya ke kurs rupiah. “Masak segini doang 2.500 Rupiah?” Hehe, gimana jika tinggal di Inggris ya? Nilai tukar rupiahnya pasti lebih tinggi lagi. Hey, apa peduliku?

     Di Riyadh suamiku baru berani beli televisi. Siarannya banyak yang bagus. Ulama Saudi banyak yang sering ngasih kajian lewat TV. Chanel favoritku adalah Bin Othaymeen TV dan Semsem. Yang pertama isinya adalah seluruh rekaman kajian Syaikh Utsaimin rahimahullah dan alhamdulillah bahasa Arab beliau tidak terlalu susah dipahami. Adapun yang kedua adalah chanel yang programnya khusus untuk anak-anak. Isinya film kartun tentang kehidupan binatang yang dikemas edukatif dan ada nilai islaminya. Film-filmnya bebas musik, itu yang aku suaki. Sebenarnya sih paling sering kutonton hanya untuk menyimak bahasa Arab.

     Produk-produk makanan Saudi banyak yang aku sukai. Dari susu, keju, yoghurt, coklat, roti, sampai crackers banyak yang enak-enak. Kami (baca, aku dan suami) lebih senang mengkonsumsi susu dan yohurt yang masa berlakunya hanya 3-7 hari. Susu bubuk pun kami beli, tapi hanya untuk campuran bahan kudapan biasanya. Jenis buah-buahannya pun banyak di sini. Buah-buahan yang mahal di Indonesia semacam anggur, cheri, raspberry, atau aprikot harga lumayan murah. Sebaliknya, buah-buahan tropis seperti rambutan, manggis, klengkeng, atau langsat, jangan tanya deh harganya. Biasanya di atas 15 Riyal per kilo, bahkan ada yang hanya 1/4 kilo. Mahal banget untuk ukuran gaji suamiku.

     Kendaraan utama yang banyak dipilih masyarakat Riyadh adalah mobil. Bis dan taksi jadi alternatif kedua. Sedikit sekali ditemukan motor di sini. Karena biaya taksi mahal, banyak mahasiswa yang memilih beli mobil sendiri, termasuk mahasiswa Indonesia. Hanya dengan modal minimal 6000 Riyal biasanya sudah bisa beli mobil bekas produksi tahun 90-an yang masih bagus kondisinya.

     Alasan lainnya yang membuat aku suka tinggal di Riyadh adalah fasilitas layanan kesehatan gratis untuk istri mahasiswa King Saud University. King Khalid Hospital adalah rumah sakit langganan para keluarga mahasiswa KSU ketika mereka berobat atau hanya sekadar konsultasi. Karena berstatus istri mahasiswa KSU, maka semua layanan diberikan cuma-cuma. Jika ada istri mahasiswa yang melahirkan atau operasi yang butuh rawat inap di rumah sakit pun tidak dipungut biaya sama sekali. Begitu juga dengan rumah sakit giginya. Aku termasuk yang senang banget ke sini walau hanya untuk tambal gigi atau bersihin karang gigi. Hahay, gratis sih.

    Di luar topik bahasan, ada beberapa pertanyaan yang sampai sekarang menggelayut di kepalaku tentang Kota Riyadh. “Istana Raja Abdullah itu di kawasan mana ya?” Masak Istana Negara aja yang belum pernah aku kunjungi aku tahu daerahnya. Hehe, nggak penting ya? Aku sudah tanya beberapa kenalan tapi semua nggak ambil pusing. Mungkin juga karena aku tidak pernah bertanya pada orang Riyadh asli. Trus, “di mana ya rumahnya Syaikh Bin Baz rahimahullah?” Ini nih yang sangat bikin penasaran. Kata suamiku, “ada-ada aja pengen tahunya.” Iya ya, nggak penting memang. Paling penting adalah berusaha mencontoh keilmuan beliau.

    Nah, aku paling senang cerita bagian yang terakhir. Hal yang teramat sangat membuatku jatuh cinta truly madly deeply dengan Riyadh, yakni bisa selalu berkunjung ke Baitullah Makkah Almukarramah. Setiap liburan atau kapanpun kita mau, insya Allah kami bisa selalu kesana. Tak tahu lagi harus kuwakilkan dengan apa rasa syukurku atas segala nikmat Allah atas diriku, terutama nikmat bisa shalat dan berdoa Masjidil Haram, tempat semua hati kaum muslimin bertaut.

           

“Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmatNya berbagai kemaslahatan bisa tercapai.”

 

 

Ummul Hamam, 7 Rabi’ul Awwal 1433 H.

 
Leave a comment

Posted by on 30 January 2012 in Edisi Riyadh

 

Tags: , , , , ,

Mertuamu Surgamu

Seorang sahabat belum lama ini ‘curhat’ mengenai hubungannya dengan mertua yang kurang harmonis.  Kebetulan sahabat tersebut tinggal serumah dengan mertuanya.

     “Rasanya tertekan banget, La. Aku mau ngontrak atau ngekost aja deh” ucap sahabat saya. Saya tersenyum-senyum saja membiarkan ceritanya mengalir lepas. Rupanya perbedaan kultur telah membuat hubungan menantu-mertua tersebut menjadi kurang hangat.

Bergaul dengan mertua –dalam tulisan ini, maksud mertua adalah Ibu Mertua, pen.– memang gampang-gampang susah. Wacana seni bergaul dengan mertua banyak diulas dalam artikel-artikel psikologi rumah tangga, namun dalam kenyataan, teorinya tidak selalu mencocoki prakteknya. Masalah komunikasi antara mertua-menantu  ini bisa datang dari pihak menantu, mertua, maupun kedua belah pihak.

Satu hal yang patut saya syukuri adalah ketika dianugerahi mertua yang sangat baik. Bisa dikatakan hubungan saya dan mertua terjalin sangat manis. Meski tidak pula saya katakan hubungan kami mulus-mulus saja tanpa masalah. Sebab dalam sebuah bangunan komunikasi, yang namanya gangguan (noise) pasti tetap ada. Namun dengan senantiasa memohon pertolongan-NYA, semua masalah insya Allah ada solusinya, tergantung apakah kita cerdas dalam mengurai benang-benang masalah tersebut hingga uraiannya bisa kembali indah.

Mengenal budaya rumah mertua adalah hal yang pertama kali saya pelajari di awal menikah dan pindah ke rumah mertua. Selama dua bulan pertama saya memang masih tinggal di Pondok Mertua Indah, begitu istilah populernya. Tentu saja proses belajar itu masih terus berlangsung hingga kini, meski suami dan saya tidak serumah lagi dengan mertua.

Belajar di sini saya tempuh dengan beberapa cara yakni mengamati langsung, bertanya pada suami, bertanya pada mertua serta dari koreksi-koreksi orang dalam rumah atas “kecerobohan-kecerobohan” yang saya lakukan. Hingga semua hal tersebut membuat saya kemudian terbiasa dengan budaya rumah mertua. Budaya-budaya tersebut di antaranya: gelas minuman untuk laki-laki di dalam rumah harus pakai tatakan, gelas minum Bapak harus yang paling besar, orang tua harus didahulukan dalam hal makan (ini saya setuju sekali sebagai bentuk birul walidain sebagaimana dalam cerita tiga pemuda yang terkurung dalam gua), dan masih banyak lagi kebiasaan yang lain.

Adapun proses belajar dari kesalahan adalah hal yang paling banyak saya alami. Terutama dalam hal memasak. Memasak memang bukan aktivitas yang saya gilai. Maka tidak heran saya kurang pandai dalam hal yang satu itu. Mertua pun sudah saya beri tahu mengenai hal ini ketika saya akan dinikahi putra beliau. Alhamdulillah beliau pun sabar sekali menghadapi kekurangan saya dalam masalah memasak ini. Beliau bahkan mengajari saya banyak hal tentang urusan dapur. Dari proses belajar itu saya akhirnya tahu bagaimana memilih pisang yang baik, mencuci piring yang efisien, menghemat listrik dan air, menghasilkan gorengan ikan yang enak, merebus sayuran yang benar agar vitaminnya tidak hilang, memanfaatkan limbah dapur yang ada, menghemat uang suami, juga memanfaatkan barang-barang bekas yang masih layak digunakan.

Ketika belajar tersebut saya pun memahami hal-hal yang membuat mertua saya bahagia. Saya mengerti beliau senang ketika tahu saya mencintai serta mampu mengurus keperluan suami, tidak lamban dan antisipatif, memuliakan keluarganya pun selalu menyambung kekerabatan dengan mereka, visioner, berbesar hati jika ditegur, bisa belajar dari kesalahan, dan jujur. Alhamdulillah di sisi lain mertua pun termasuk orang yang mau menerima masukan dari anak-anaknya, termasuk saya, jika memang beliau salah.

Akhirul kalam, bagaimanapun karakter mertua kita perhatikanlah bagaimana kita menjalin hubungan dengan mereka. Ingatlah bahwa mereka adalah orang tua dari suami akita. Mereka juga punya hak besar untuk kita perlakukan dengan baik, dihormati, dinasehati dengan lemah lembut ketika keduanya lalai, juga disambungkan hubungan kekerabatannya ketika meninggalnya. Dengan memuliakan keduanya karena Allah, bukan hanya pahala yang kita tuai, kasih sayang dan cinta dari mertua dan suami pun insya Allah bisa kita peroleh. Wallahul musta’an.

————————————————————————————————–

Catatan Kecil Dari Rumah Mertua Tercinta

Balikpapan, 20 Dzulhijjah 1431 H.

 
Leave a comment

Posted by on 12 January 2012 in Tentang Keluarga

 

Tags: , , ,

Dunia Baru

Di padang pasir gemerlap ini ada harapan terangkai

Menjadi wanita harum semerbak sangat

Dengan perhiasan ilmu dan amal yang kemilaunya terpancar

Berpeluh penat memesona belahan hati

Demi surga yang menanti

Riyadh, 14 Syawwal 1432 H

 
Leave a comment

Posted by on 12 September 2011 in Edisi Riyadh