RSS

Kepada “Maut”

03 Feb

Betapa pun  susah sungguh menguntai kata nan puitis, pun menjalin bahasa indah, namun surat ini harus engkau baca.

Baiklah, aku awali surat ini dengan satu pertanyaan.

Menurutmu, apakah bahagia itu?

Biar kutebak jawabanmu. Apakah engkau mengartikan bahagia dengan  memiliki harta berlimpah, karir mapan, rumah indah bak istana, mobil mewah nan elegan, istri cantik memesona, kemudian mati masuk surga?

Jika tebakanku benar maka cukup mengangguk saja.

Aku  mengerti jika engkau berpikir demikian tentang makna bahagia.

Sebab di mataku kau memang pekerja keras.

Tahukah engkau? aku selalu menghargai lelaki pekerja keras sepertimu.

Namun, bahagiakah dirimu begitu?

Berpeluh lelah mengumpulkan lembar -lembar uang, lantas sekejap saja uang tersebut menjelma menjadi jam tangan keren berkelas, sepatu kulit dengan harga selangit, atau celana kasual yang membikin dirimu makin keren.

Duhai, betapa nikmatnya hidupmu.

Badan sehat dikelilingi  banyak kawan.

Ya, engkau memang dicintai kawan-kawanmu.

Siapa yang tak kenal engkau?

Lelaki yang mudah bersahabat dengan banyak orang.

Maaf, aku sedang tidak menyanjungmu.

Aku hanya senang berucap jujur.

Sekali lagi aku bertanya, bahagiakah hidupmu seperti itu?

Oke, alismu tidak perlu berkerut seperti itu karena pertanyaanku.

Aku sekadar ingin meyakinkan saja.

Sungguh tak ingin buatmu marah.

Oh ya, pernahkah suatu saat engkau bertanya pada diri sendiri, “apakah bahagiaku membuat keluarga terdekatku turut bahagia?”

Tak usah menjawab jika kau bingung.

Kau hanya cukup memerhatikan keadaan mereka.

Jika  wajah Ibumu senantiasa berseri ketika melihatmu dan kalian jarang bertengkar  hanya karena kondisi dirimu, yakinlah beliau  pasti bahagia.

Sebab wajah  yang berbahagia terlalu sulit untuk ditutupi.

Pun dengan istrimu. Jika kau temukan dia dengan wajah penuh senyuman dan tatapan penuh cinta, percayalah dia sedang berbahagia.

Kau tentu setuju jika aku katakan, cinta tak akan mampu berdusta.

Begitu pula saudara  saudarimu. Jika kau dapati lisan mereka tidak selalu berpetuah tentang dirimu, tersenyumlah karena mereka mungkin bahagia.

Ingat! Hanya keluarga dekat BUKAN teman-teman dekat.

Ataukah pemandangan sebaliknya yang engkau lihat?

Awan mendung selalu menghiasi wajah Ibumu karena sedih memikirkan keadaanmu.

Demikian pula istrimu. Bulir-bulir air mata setiap saat  jatuh dari wajah cantiknya sebab merindukan suaminya yang terlalu jauh mengejar kebahagiaannya sendiri.

Saudara saudarimu pun harus selalu menasihatimu karena dirimu seakan berada hanya di duniamu sendiri.

Jika tiga kondisi terakhir ini yang kau alami, mulailah untuk berpikir duhai kawan.

Tidak harus dengan berpikir keras.

Perlahan-lahan saja di waktu-waktu yang tenang.

Kata orang waktu kontemplasi.

Ketika bangun pagi atau sesaat menjelang tidur.

Merenunglah sejenak akan hidupmu.

Tak perlu memaksakan diri kalau terasa susah.

Mari biar kuberi  kau pemantiknya.

Lalu intiplah  jendela kebahagiaan yang sebenarnya.

Di tengah malam senyap saat kau mungkin sedang lelap, di ruangan yang lain, tangan keriput Ibumu terangkat ke langit , berdoa kepada Rabbnya dengan deraian air mata agar Dia selalu melimpahkan kebaikan untuk seluruh anaknya. Terutama dirimu.

Itulah kebahagiaan!

Kau dianugerahi sosok Ibu yang selalu mendoakanmu.

Sosok yang berjuang dengan segala cara agar kau bisa dekat dengan Rabbnya.

Silakan jawab sendiri balasan apa yang sudah engkau kalungkan untuknya atas kebaikannya tersebut.

Berikutnya Allah menakdirkanmu beroleh seorang istri.

Mungkin dia bukan sosok istri idamanmu

Namun cobalah sedikit mengingat kebaikannya.

Jika lisanmu memang sering menolak nasihatnya.

Jangan sampai hati dan akalmu tertutup untuk kebaikan dari isi nasihatnya.

Ketika setan begitu menggebu membisikkan segala kekurangannya

Berjuanglah untuk memeranginya.

Sudahkah kau mendengar kabar dari nabimu?

Beliau SAW berucap bahwa kebahagian terbesar dan terindah bagi iblis dan kawan-kawannya adalah ketika mereka mampu memisahkan suami-istri.

setelah kau tahu kabar ini, masih inginkah kau membuat musuh abadi kita itu tertawa bahagia di atas goncangan bahtera rumah tanggamu?

Berkacalah dengan usiamu wahai jiwa yang semoga dilembutkan hatinya.

Engkau bukan lagi remaja yang darah mudanya sering menentang semua yang tak sejalan dengan  akalnya.

Engkau bukan lagi remaja yang pikirannya hanya hura-hura.

Tugas baru kini bertahta di pundakmu.

Kau kini memangku gelar SUAMI, imam bagi istrimu.

Sebuah nikmat yang membuat banyak bujangan mungkin iri terhadapmu.

Sebuah karunia yang diimpikan para laki-laki shalih yang belum berkemampuan untuk itu, sebab dengannya sempurnalah separuh agama mereka.

Kau hanya diminta untuk melengkapi setengah sisanya.

Menyenangkan bukan?

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Duhai engkau yang semoga Allah menuntunmu di atas kebenaran.

Jika selama ini engkau menyadari bahwa engkau banyak lalai dan alpa,

Mulailah untuk menengok ke relung hatimu.

Dan tempuhlah jalan kebahagiaan hakiki yang menantimu sejak lama.

Jalan yang sudah dititahkan Tuhanku dan Tuhanmu, bagi hamba-hamba yang ingin melaluinya.

Jalan yang Dia ajarkan kepada manusia yang paling mulia di alam ini, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Kembalilah ke pelukan cinta Ibumu yang bertahun-tahun merindukan sapaan hangat dan lembutnya jiwamu.

Kabarkan padanya bahwa Rabbnya telah mengabulkan doa di malam-malam yang dia lewati bersama-Nya.

Gembirakanlah istrimu sehingga laskar setan yang ingin memutus tali cinta kalian pergi dengan penuh kekalahan.

Setelah membaca suratku ini, senyum sukacita dari wajah-wajah yang mencintaimu mungkin telah menantimu di luar sana.

Sebab kau telah menjadi insan yang baru.

Lelaki yang senantiasa berusaha dekat dengan Sang Pemberi kebahagiaan.

Selamat menebar dan meraih bahagia!

Riyadh, 17 Safar 1433 Hijriah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 3 February 2012 in Tentang Keluarga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: