RSS

Monthly Archives: January 2012

Riyadh, I’m In Love

Kingdom Tower

     Aku jatuh cinta dengan Riyadh. Lima bulan hidup di ibukota Saudi Arabia bagiku terasa sangat menyenangkan. Well, hidupnya monoton memang. Rumah-sekolah. Di dua tempat itu saja aku menghabiskan aktivitasku. Jika butuh, sesekali aku pergi belanja ke mall atau ke rumah sakit. Suamiku yang lebih sering belanja.

     Laiknya hidup di Negara Islam, maka suasana keislaman pun kental terasa di sini. Setiap waktu shalat tiba, warung kecil sampai mall paling besar harus tutup. Begitu juga kantor dan kampus. Menakjubkan. Beberapa kali ketika belanja dan tiba waktu shalat, aku harus terkurung di dalam mall bersama wanita-wanita lainnya, menunggu para pekerja dan pengunjung laki-laki sampai selesai shalat. Di Riyadh juga masih bisa ditemukan polisi syariah berpatroli menyuruh manusia shalat berjama’ah di masjid.

     Aku tidak mengatakan Riyadh yang terbaik dalam menerapkan hukum Islam. Wanita yang tidak berjilbab juga bisa didapati di tempat-tempat umum di sini, semisal rumah sakit dan toko-toko. Biasanya mereka berasal dari Pilipina, India, atau sebagian Amerika. Jumlah mereka tidak banyak. Alhamdulillah. Paling tidak aku merasa bebas bercadar di sini.

     Oh iya, di Indonesia mungkin masih agak aneh bagi mayoritas masyarakat melihat perempuan bercadar. Di Riyadh sebaliknya. Perempuan tak berjilbab akan diplototi dengan tatapan aneh dari berpasang-pasang mata. Saya sendiri sih kalau melihat mereka biasanya berkomentar dalam hati, “ah, paling-paling juga non Muslim.”

     Untuk makanan, tidak sulit mencari bahan masakan Indonesia di Riyadh. Lulu Hypermart langgananku bahkan nyaris komplit menjual bahan masakan Asia, khususnya Indonesia. Pare, oyong, kunyit, jahe, kelapa, singkong, ubi, jagung, terong, sampai daun pisang pun dijual di sini. Oops! Maaf bukan bermaksud promosi.

     Biaya hidup di Riyadh termasuk tinggi. Awal-awal ketika belanja, meski harganya cuma 1 Riyal, otakku masih suka menghitungnya ke kurs rupiah. “Masak segini doang 2.500 Rupiah?” Hehe, gimana jika tinggal di Inggris ya? Nilai tukar rupiahnya pasti lebih tinggi lagi. Hey, apa peduliku?

     Di Riyadh suamiku baru berani beli televisi. Siarannya banyak yang bagus. Ulama Saudi banyak yang sering ngasih kajian lewat TV. Chanel favoritku adalah Bin Othaymeen TV dan Semsem. Yang pertama isinya adalah seluruh rekaman kajian Syaikh Utsaimin rahimahullah dan alhamdulillah bahasa Arab beliau tidak terlalu susah dipahami. Adapun yang kedua adalah chanel yang programnya khusus untuk anak-anak. Isinya film kartun tentang kehidupan binatang yang dikemas edukatif dan ada nilai islaminya. Film-filmnya bebas musik, itu yang aku suaki. Sebenarnya sih paling sering kutonton hanya untuk menyimak bahasa Arab.

     Produk-produk makanan Saudi banyak yang aku sukai. Dari susu, keju, yoghurt, coklat, roti, sampai crackers banyak yang enak-enak. Kami (baca, aku dan suami) lebih senang mengkonsumsi susu dan yohurt yang masa berlakunya hanya 3-7 hari. Susu bubuk pun kami beli, tapi hanya untuk campuran bahan kudapan biasanya. Jenis buah-buahannya pun banyak di sini. Buah-buahan yang mahal di Indonesia semacam anggur, cheri, raspberry, atau aprikot harga lumayan murah. Sebaliknya, buah-buahan tropis seperti rambutan, manggis, klengkeng, atau langsat, jangan tanya deh harganya. Biasanya di atas 15 Riyal per kilo, bahkan ada yang hanya 1/4 kilo. Mahal banget untuk ukuran gaji suamiku.

     Kendaraan utama yang banyak dipilih masyarakat Riyadh adalah mobil. Bis dan taksi jadi alternatif kedua. Sedikit sekali ditemukan motor di sini. Karena biaya taksi mahal, banyak mahasiswa yang memilih beli mobil sendiri, termasuk mahasiswa Indonesia. Hanya dengan modal minimal 6000 Riyal biasanya sudah bisa beli mobil bekas produksi tahun 90-an yang masih bagus kondisinya.

     Alasan lainnya yang membuat aku suka tinggal di Riyadh adalah fasilitas layanan kesehatan gratis untuk istri mahasiswa King Saud University. King Khalid Hospital adalah rumah sakit langganan para keluarga mahasiswa KSU ketika mereka berobat atau hanya sekadar konsultasi. Karena berstatus istri mahasiswa KSU, maka semua layanan diberikan cuma-cuma. Jika ada istri mahasiswa yang melahirkan atau operasi yang butuh rawat inap di rumah sakit pun tidak dipungut biaya sama sekali. Begitu juga dengan rumah sakit giginya. Aku termasuk yang senang banget ke sini walau hanya untuk tambal gigi atau bersihin karang gigi. Hahay, gratis sih.

    Di luar topik bahasan, ada beberapa pertanyaan yang sampai sekarang menggelayut di kepalaku tentang Kota Riyadh. “Istana Raja Abdullah itu di kawasan mana ya?” Masak Istana Negara aja yang belum pernah aku kunjungi aku tahu daerahnya. Hehe, nggak penting ya? Aku sudah tanya beberapa kenalan tapi semua nggak ambil pusing. Mungkin juga karena aku tidak pernah bertanya pada orang Riyadh asli. Trus, “di mana ya rumahnya Syaikh Bin Baz rahimahullah?” Ini nih yang sangat bikin penasaran. Kata suamiku, “ada-ada aja pengen tahunya.” Iya ya, nggak penting memang. Paling penting adalah berusaha mencontoh keilmuan beliau.

    Nah, aku paling senang cerita bagian yang terakhir. Hal yang teramat sangat membuatku jatuh cinta truly madly deeply dengan Riyadh, yakni bisa selalu berkunjung ke Baitullah Makkah Almukarramah. Setiap liburan atau kapanpun kita mau, insya Allah kami bisa selalu kesana. Tak tahu lagi harus kuwakilkan dengan apa rasa syukurku atas segala nikmat Allah atas diriku, terutama nikmat bisa shalat dan berdoa Masjidil Haram, tempat semua hati kaum muslimin bertaut.

           

“Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmatNya berbagai kemaslahatan bisa tercapai.”

 

 

Ummul Hamam, 7 Rabi’ul Awwal 1433 H.

 
Leave a comment

Posted by on 30 January 2012 in Edisi Riyadh

 

Tags: , , , , ,

Mertuamu Surgamu

Seorang sahabat belum lama ini ‘curhat’ mengenai hubungannya dengan mertua yang kurang harmonis.  Kebetulan sahabat tersebut tinggal serumah dengan mertuanya.

     “Rasanya tertekan banget, La. Aku mau ngontrak atau ngekost aja deh” ucap sahabat saya. Saya tersenyum-senyum saja membiarkan ceritanya mengalir lepas. Rupanya perbedaan kultur telah membuat hubungan menantu-mertua tersebut menjadi kurang hangat.

Bergaul dengan mertua –dalam tulisan ini, maksud mertua adalah Ibu Mertua, pen.– memang gampang-gampang susah. Wacana seni bergaul dengan mertua banyak diulas dalam artikel-artikel psikologi rumah tangga, namun dalam kenyataan, teorinya tidak selalu mencocoki prakteknya. Masalah komunikasi antara mertua-menantu  ini bisa datang dari pihak menantu, mertua, maupun kedua belah pihak.

Satu hal yang patut saya syukuri adalah ketika dianugerahi mertua yang sangat baik. Bisa dikatakan hubungan saya dan mertua terjalin sangat manis. Meski tidak pula saya katakan hubungan kami mulus-mulus saja tanpa masalah. Sebab dalam sebuah bangunan komunikasi, yang namanya gangguan (noise) pasti tetap ada. Namun dengan senantiasa memohon pertolongan-NYA, semua masalah insya Allah ada solusinya, tergantung apakah kita cerdas dalam mengurai benang-benang masalah tersebut hingga uraiannya bisa kembali indah.

Mengenal budaya rumah mertua adalah hal yang pertama kali saya pelajari di awal menikah dan pindah ke rumah mertua. Selama dua bulan pertama saya memang masih tinggal di Pondok Mertua Indah, begitu istilah populernya. Tentu saja proses belajar itu masih terus berlangsung hingga kini, meski suami dan saya tidak serumah lagi dengan mertua.

Belajar di sini saya tempuh dengan beberapa cara yakni mengamati langsung, bertanya pada suami, bertanya pada mertua serta dari koreksi-koreksi orang dalam rumah atas “kecerobohan-kecerobohan” yang saya lakukan. Hingga semua hal tersebut membuat saya kemudian terbiasa dengan budaya rumah mertua. Budaya-budaya tersebut di antaranya: gelas minuman untuk laki-laki di dalam rumah harus pakai tatakan, gelas minum Bapak harus yang paling besar, orang tua harus didahulukan dalam hal makan (ini saya setuju sekali sebagai bentuk birul walidain sebagaimana dalam cerita tiga pemuda yang terkurung dalam gua), dan masih banyak lagi kebiasaan yang lain.

Adapun proses belajar dari kesalahan adalah hal yang paling banyak saya alami. Terutama dalam hal memasak. Memasak memang bukan aktivitas yang saya gilai. Maka tidak heran saya kurang pandai dalam hal yang satu itu. Mertua pun sudah saya beri tahu mengenai hal ini ketika saya akan dinikahi putra beliau. Alhamdulillah beliau pun sabar sekali menghadapi kekurangan saya dalam masalah memasak ini. Beliau bahkan mengajari saya banyak hal tentang urusan dapur. Dari proses belajar itu saya akhirnya tahu bagaimana memilih pisang yang baik, mencuci piring yang efisien, menghemat listrik dan air, menghasilkan gorengan ikan yang enak, merebus sayuran yang benar agar vitaminnya tidak hilang, memanfaatkan limbah dapur yang ada, menghemat uang suami, juga memanfaatkan barang-barang bekas yang masih layak digunakan.

Ketika belajar tersebut saya pun memahami hal-hal yang membuat mertua saya bahagia. Saya mengerti beliau senang ketika tahu saya mencintai serta mampu mengurus keperluan suami, tidak lamban dan antisipatif, memuliakan keluarganya pun selalu menyambung kekerabatan dengan mereka, visioner, berbesar hati jika ditegur, bisa belajar dari kesalahan, dan jujur. Alhamdulillah di sisi lain mertua pun termasuk orang yang mau menerima masukan dari anak-anaknya, termasuk saya, jika memang beliau salah.

Akhirul kalam, bagaimanapun karakter mertua kita perhatikanlah bagaimana kita menjalin hubungan dengan mereka. Ingatlah bahwa mereka adalah orang tua dari suami akita. Mereka juga punya hak besar untuk kita perlakukan dengan baik, dihormati, dinasehati dengan lemah lembut ketika keduanya lalai, juga disambungkan hubungan kekerabatannya ketika meninggalnya. Dengan memuliakan keduanya karena Allah, bukan hanya pahala yang kita tuai, kasih sayang dan cinta dari mertua dan suami pun insya Allah bisa kita peroleh. Wallahul musta’an.

————————————————————————————————–

Catatan Kecil Dari Rumah Mertua Tercinta

Balikpapan, 20 Dzulhijjah 1431 H.

 
Leave a comment

Posted by on 12 January 2012 in Tentang Keluarga

 

Tags: , , ,